Larangan Pernikahan Dini Dideklarasikan di Kecamatan Saptosari Gunungkidul

[Mas Jogja] Sosialisasi pencegahan pernikahan dini terus digalakkan Pemkab Gunungkidul melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul. Ibarat gayung bersambut, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul pun mendeklarasikan Larangan Pernikahan dini dalam rangka peningkatan kualitas hidup.

Upaya pencegahan pernikahan dini dilaporkan digencarkan Pemkab Gunungkidul mengingat kasus bayi stunting pada 2017 di Gunungkidul mencapai 6.200 balita. Dilihat dari indikasinya, ternyata pernikahan yang dilakukan remaja usia 14-18 tahun memiliki kontribusi 30% terhadap jumlah bayi stunting.

Kondisi tersebut juga mendorong Pemerintah Kecamatan Saptosari, Gunungkidul mendeklarasikan larangan pernikahan dini. Deklarasi larangan tersebut sebagaimana dilaporkan Antaranews.com ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Mereka yang tidak melakukan pernikahan dini dapat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi dan meningkatkan perekonomian. Ditegaskan oleh Camat Saptorsari Jarot Hadiatmoho, bahwa bagi warga yang menikah belum cukup umur tidak akan ditandantangani izin menikahnya. Selanjutnya bagi mereka yang nekat, juga disepakati tidak ada seorang pun bersedia menjadi saksi. Termasuk menghadiri acara pernikahan tersebut.

baca: Gedangsari dan Saptosari, Kantong Kemiskinan di Gunungkidul

Kerawanan Menikah di Usia Dini

Menurut Jarot, banyak terjadi masih muda tapi sudah jadi janda. Selain itu melahirkan anak di usia dini juga rawan bagi kesehatan reproduksi, tambahnya. Ia menekankan agar pasangan yang menikah adalah yang siap lahir batin. Menurutnya, anak hasil pernikahan dini biasanya menjadi beban orang tuanya.

Diketahui pula bahwa pihak Dinas Kesehatan Gunungkidul bekerja sama dengan Disdikpora dan DP3AKBPMD dalam upaya pencegahan pernikahan dini di Gunungkidul. Demikian hal itu dikemukakan oleh Kartini, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul.


sbobet88

Gunungkidul, Program Pemerintah