Pelaku Amatiran Tidak Dapat Menggantikan Para Ahli

(Mas Jogja) – Ketika apa yang dikatakan oleh politisi bukan sesungguhnya, maka hal itu akan mengurangi kepercayaan publik kepada politisi tersebut. Hal ini disampaikan oleh pengamat politik UGM Prof Dr Mohtar Mas’oed dalam orasi ilmiah “Menjaga Kepercayaan Publik terhadap Demokrasi di Era Post-Truth” pada puncak Peringatan Dies Natalis ke-35 Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, Jumat (7/9/2018).

Fenomena itu, lanjutnya,  sama dengan munculnya “media baru” berupa media sosial (medsos) yang cenderung tanpa identitas, kemudian mencoba menantang “media lama” seperti televisi, radio dan koran. Namun demikian diyakini pelaku amatiran tidak akan mampu menggantikan peran para ahli karena menyangkut persoalan etika dan akuntabilitas.

Dosen Fisipol UGM ini menyebut tiga nilai dasar demokrasi idaman, yaitu kebebasan, kesetaraan dan toleransi. Cara kerja dan perilaku berpolitik yang memungkinkan masyarakat menerapkan hak berpartisipasi secara demokratik dengan menjunjung tinggi toleransi dan kesetaraan.

Mas’oed juga menyebutkan, secara umum terdapat tiga kualitas politisi. Pertama, passion, yang bersemangat mengabdi untuk suatu tujuan. Kedua, a feeling of responsibility, mengejar tujuan dituntun oleh tanggung-jawab. Ketiga, a sense of proportion, yakni punya kemampuan menghadapi realitas dengan konsentrasi dan pikiran yang tenang serta kemampuan untuk “ambil-jarak” terhadap obyek. (tiras)

Peristiwa