20 Bregada Rakyat DIY Siap Tampil di Kebo Ketan

(Mas Jogja) – Sebanyak 20 bregada rakyat se-DI Yogyakarta bakal ambil bagian dalam Gelaran Kebo Ketan di Sekaralas Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, 23 – 25 November mendatang. Even tahunan ini digagas penggiat budaya Bramantyo Prijosusilo, dikuti sejumlah komunitas seni budaya dari berbagai kota, termasuk Yogyakarta.

Koodinator Widihasto Wasana Putra menjelaskan, upacara Kebo Ketan 2018 ini diikuti pula seni keprajuritan rakyat Bregada Panji Parentah, yakni bregada dengan formasi gabungan para manggalayuda bregada rakyat se-DIY. Mereka adalah Bregada Nitimanggala (Daengan Gedongkiwo Yogyakarta), Bregada Jemparing Langenastro (Yogyakarta), Bregada Sangga Rumekso (Manding Sabdodadi Bantul), Bregada Turi Putih (Sumber Agung Jetis Bantul), Bregada Rangsang Manggala (Bugisan Yogyakarta).

Selain itu Bregada Dandang Rekso (Sawahan Pandowoharjo Sleman), Bregada Kyai Ronggah (Kronggahan II Trihanggo Gamping Sleman), Bregada Surautama (Toino Pandowoharjo Sleman), Bregada Bausosro Sawiji Lestari (Bausasran Danurejan Yogyakarta), Bregada Agung Guno Joyo (Kaliagung Sentolo Kulon Progo). Juga Bregada Ganggeng Rekso Yudhi (Bangunkerto Turi Sleman), Bregada Suko Waneng Yudho (Merdikorejo Tempel Sleman), Bregada Gotri Selo Aji (Selomartani Kalasan Sleman), Bregada Puspitosari (Wukirsari Imogiri Bantul) dan Bregada Winata Manggala (Ngewotan Ngestiharjo Kasihan Bantul). Lainnya Bregada Brojopaksi (Sardonoharjo Ngaglik Sleman), Bregada Jayeng Ponco (Jatimuyo Tegalrejo Yogyakarta), Bregada Minakjinggo Blambangan (Trihanggo Gamping Sleman), Bregada Wirorejo (Biru Kidul Trihanggo Gamping Sleman) dan Bregada Kyai Morang (Murangan VII Triharjo Sleman).

Untuk korps musik atau disebut ungel-ungelan terdiri dari 12 personil Bregada Nitimanggala. Sedangkan formasi prajurit dari masing-masing bregada dua orang terdiri atas manggalayuda dan pembawa bendera. “Total melibatkan 52 orang, belum termasuk crew pendukung,” sebutnya.

Menurut Hasto, keikutsertaan seni keprajuritan rakyat DIY dalam even budaya Kebo Ketan selalu dinanti para penonton. Perpaduan antara busana, cara berjalan dan komposisi musik khas ala prajurit keraton menjadi magnet tersendiri yang memperkuat sakralisasi acara.

Ia jelaskan, seni keprajuritan rakyat DIY mulai ada sejak 1970-an, seiring upacara adat di perdesaan. Eksistensinya semakin populer tatkala mereka dilibatkan dalam gerakan memperjuangkan keistimewaan DIY. Termasuk ikut dalam sejumlah demonstrasi besar, baik di Yogyakarta maupun di Istana Jakarta. Pascapenetapan UU Keistimewaan DIY diinisiasi Festival Bregada Rakyat DIY yang diadakan bergiliran di kabupaten/kota se-DIY.

Kini, tutur Hasto, keberadaan seni keprajuritan rakyat DIY kian menjamur. Kemunculannya berdampak positif multidimensional. Mulai dari memperkuat kohesi sosial, menumbuhkan industri lokal busana adat berikut asesoris hingga promosi pariwisata daerah.

Sementara upacara Kebo Ketan sendiri menjadi salah satu simpul lokal penting yang merepresentasi pentingnya sinergi kebudayaan untuk memperkokoh kebangsaan. (tiras)

Jogja & Sekitarnya, Kota Yogyakarta