April 2019 Bandara NYAI Dapat Beroperasi

(Mas Jogja) –  Progress pembangunan konstruksi New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo telah mencapai 0,1033 persen per 17 September 2018.  Angka itu meliputi progress realisasi fisik airside (0,0366 persen) dan landside (0,0677).  Dengan capaian itu, NYIA diyakini dapat mulai beroperasi pada April 2019.

“Paralel taxiway, runway, taxiway apron, rapio exit taxiway akan dikebut 100 persen rampung pada April 2019, sedangkan apron akan berproses hingga 50 persen di April 2019. Konstruksi landside seperti terminal penumpang dan gedung parkir sekitar 50 persen,” kata Tauchid Purnomo Hadi selaku Manajer Proyek Pembangunan NYIA pada peninjauan lapangan di lokasi NYIA bersama para jurnalis Unit Kepatihan dan Kulon Progo, Kamis (20/9/2018).

Rombongan dari Kepatihan dipimpin Kabid Humas Diskominfo DIY Iswantoro SH MKes.  Tercatat 19 wartawan Unit Kepatihan yang ikut, ditambah wartawan dari Kulon Progo.  Sebelum meninjau lokasi, tim diterima di ruang rapat PP Pembangunan Perumahan (PP) oleh Agus Pandu Purnama selaku General Manager Bandara Adisoetjipto, Tauchid dan GM PT PP Andek Prabowo beserta jajarannya.

Peninjauan lapangan dilakukan di ujung (barat) runway. Fisik runway sudah terlihat, membujur dari barat ke timur.  Jarak runway dari bibir pantai menurut Tauchid sekitar 400-500 meter. Ketinggian runway sekitar 4 meter di atas permukaan laut.   Untuk bangunan terminalnya sendiri berlokasi di utara runway atau menjauh dari pantai.

Bangunan terminal akan didesain mampu menahan goncangan gempa 8,8 SR dan sekaligus akan difungsikan sebagai tempat evakuasi sementara yang dibuat seaman dan senyaman mungkin.  Terminal dibangun 6 meter di atas permukaan tanah.  Bagian bawah akan dikosongkan/dibuat kolom-kolom pemecah gelombang tsunami.

”Namanya sacrifice column, kolom yang dikorbankan (ketika tsunami menerjang).   Jadi bangunan dan orang yang ada di dalamnya dipastikan aman,” katanya sebagaimana dikutip dari situs resmi Humas Pemprov DIY.

Terkait kearifan lokal Tauchid menambahkan pihaknya akan menggunakan ornamen batik Kawung untuk keseluruhan desain di terminal.  Bahkan juga akan ada nama-nama desa terdampak NYIA sebagai penamaan kelima boarding gate di NYIA.

“Desa itu yakni Palihan, Glagah, Kebonrejo, Sindutan dan Jangkaran. Kami tidak ingin desa-desa yang terdampak begitu saja dilupakan. Untuk itu, kita tuangkan konsep dalam satu terminal. Bulan Oktober 2018 akan kita mulai pembangunan terminalnya,” tambahnya.

Agus Pandu Purnama menambahkan  masyarakat yang terdampak dapat memanfaatkan momentum pembangunan NYIA. ”Kita telah melakukan pelatihan security, memberikan pelatihan kewirausahaan, dan pendampingan perencanaan keuangan dimaksudkan supaya warga penerima pembebasan lahan dapat mengelola dana secara produktif,” ucap Agus. (*/sdr)

Jogja & Sekitarnya, Kulonprogo